Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Gedung C Fisip UI Terbakar, Banyak Bahan Penelitian Hilang

Kebakaran di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia menjadi tragedi kaum akademisi karena kehilangan banyak bahan penelitian yang berguna, kata dosen filsafat UI Taufik Basari.

"Apa gunanya universitas kalau tidak ada bahan dan hasil penelitian," ujar dia dalam keterangan pers yang diterima di Jakarta, Kamis.

Ia mengatakan kebakaran di UI, Rabu (8/1) tidak hanya menyangkut kerugian material, namun yang lebih utama adalah kehilangan bahan-bahan penelitian yang berguna.

Ia mengimbau universitas-universitas lain dapat mengambil pelajaran dari tragedi di UI dan segera menelaah lagi sistem keamanannya. "Kita telah menemukan satu lubang, berangkat dari sini mari kita perbaiki semuanya," ujar Taufik.

Mantan Dekan FISIP UI Bambang Shergy yang juga Guru Besar Sosiologi FISIP UI mengaku terpukul dengan kebakaran di gedung FISIP UI tersebut. Ia menyayangkan arsip, buku, dan semua rujukan ilmu sosiologi yang selama ini terdokumentasi akhirnya menjadi abu.

Terdapat sekitar 5.000 arsip yang disimpan sejak era 1950-an di dalam ruang yang terbakar itu. Ia juga menyesalkan pembangunan fasilitas yang tidak diproteksi bencana kebakaran.

Pihak departemen sudah merancang bangunan secara fungsional, estetis, dan aman dari bahaya pencurian, karena itu banyak dipasang teralis di jendela ruangan."Kerugian gedung bisa diukur dan dikembalikan dengan mudah dengan asuransi, namun buku-buku yang menjadi warisan dan rujukan ilmu pengetahuan ini yang sulit diadakan kembali," katanya.

Menurut Komandan Pleton Dinas Pemadam Kebakaran Pasar Minggu Sugiyanto, kebakaran terjadi karena percikan arus pendek dari pendingin ruangan di ruang arsip Departemen Sosiologi.

Ia menyayangkan gedung C yang menjadi gedung Departemen Sosiologi FISIP UI tersebut bukan gedung yang dipersiapkan untuk tahan bencana kebakaran.

Para pemadam mengalami kesulitan masuk dalam gedung karena hanya ada satu akses pintu utama di gedung tersebut, ditambah teralis yang terpasang di semua gedung.

Inilah Kampus Negeri yang Sulit Ditembus

Perbandingan jumlah peminat pada sebuah jurusan di suatu perguruan tinggi negeri (PTN) dengan daya tampung yang tersedia menentukan tingkat persaingan. Semakin besar jumlah peminat namun kursi yang ada sangat terbatas, menyebabkan tingkat persaingan di PTN tersebut sangat tinggi.

Jadi, kampus-kampus favorit bisa jadi bukan kampus-kampus dengan tingkat persaingan ketat. Tren kampus-kampus yang kerap menunjukkan ketatnya tingkat persaingan antarpeserta SNMPTN adalah:

Kelompok IPA
  1. Institut Pertanian Bogor (IPB)
  2. Universitas Hasanuddin (Unhas)
  3. Institut Teknologi Bandung (ITB)
  4. Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya
  5. Universitas Indonesia (UI)
  6. Universitas Sumatera Utara (USU)
  7. Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta
  8. Universitas Andalas (Unand) Padang
  9. Universitas Airlangga (Unair) Surabaya
  10. Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung.

Kelompok IPS
  1. Universitas Indonesia (UI)
  2. Universitas Negeri Padang (UNP)
  3. Universitas Negeri Medan (Unimed)
  4. Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung
  5. Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)
  6. Universitas Airlangga (Unair) Surabaya
  7. Universitas Riau (Unri)
  8. Universitas Negeri Surabaya (Unesa)
  9. Universitas Jambi
  10. Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

STAIN Pamekasan Ajukan Pergantian Status Jadi IAIN

Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pamekasan di Pulau Madura, Jawa Timur, mengajukan proposal pergantian status lembaga pendidikan itu menjadi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) ke Kementerian Agama.

Menurut Pembantu Ketua (PK) II STAIN Pamekasan Ach Muhlis, M.Ag, Ahad, proposal pergantian status STAIN menjadi IAIN itu sudah disampaikan langsung kepada Menteri Agama RI Suryadharma Ali.

"Proposal itu telah kami sampaikan secara langsung tadi malam, seusai acara pertemuan Menag dengan para tokoh ulama pengasuh pondok pesantren di peringgitan pendopo Pemkab Pamekasan," katanya menjelaskan.

Menurut Muchlis, STAIN mengajukan pergantian status dari sekolah tinggi menjadi institut, karena sudah menjadi kabutuhan. Sebab dengan pergantian status itu nantinya lembagan pendidikan Islam negeri di Pamekasan tersebut bisa membuka banyak jurusan dan program studi.

Selain itu, saat ini banyak siswa lulusan SMA, SMK dan sekolah menengah atas yang sederajat yang berminat kuliah di sekolah tinggi Islam dengan pertimbangan untuk mendalami pemahaman keagamaan.

Sebagai sebuah perguruan tinggi Islam negeri satu-satunya yang ada di Pulau Madura, menurut PK II STAIN Pamekasan itu, seharusnya sekolah tinggi bisa mewadahi kabutuhan masyarakat di Pulau Garam tersebut.

Menurut Muchlis, akan ada banyak keuntungan apabila nanti STAIN beralih status menjadi Institut Agama Islam Negeri (IAIN).

"Selain memiliki banyak peluang untuk membuka program studi, juga tentunya akan lebih maju, karena tuntutan IAIN dari sisi kualitas jelas akan lebih bangus," katanya menjelaskan.

Pertimbangan lain, karena usulan perubahan status dari STAIN menjadi IAIN itu juga telah mendapatkan persetujuan dari kalangan dosen dan civitas akademika di kampus itu.

"Kami juga mendapatkan dukungan politik dari kalangan legislatif di DPRD bersama Bupati Pamekasan," kata Ach Muchlis.

PK II STAIN Pamekasan Ach Muchlis, M.Ag menjelaskan, awalnya rencana peralihan status dari STAIN menjadi IAIN itu masih menemui beberapa kendala. Salah satunya ketersediaan lahan minimal 10 hektare.

Sementara, lahan yang tersedia saat ini menurut dia, baru sekitar 3,6 hektare atau masih kurang 6,4 hektare. Namun berkat dukungan dari Pemkab Pamekasan kekurangan lahan itu sudah teratasi.

Dari sisi kualitas dosen, STAIN sebenarnya memang sudah layak berubah status menjadi IAIN. Sebab hingga kini sekolah tinggi Islam yang beralamat di Jalan Raya Panglegur, Pamekasan itu telah memiliki sebanyak 16 doktor dengan jumlah mahasiswa aktif 3.813 orang.

"Kalau persyaratan IAIN kan hanya 3.400-an mahasiswa. Kami di STAIN ini sudah lebih," tambahnya.

Dosen IBI Membuat Software Pendeteksi Plagiat

Kasus plagiat atau penjiplakan menyita perhatian dosen Institut Bisnis dan Informatika (IBI) Darmajaya Bandar Lampung, Warsilah. Melalui penelitiannya, ia membuat sistem pendeteksi plagiat yang memiliki kemampuan untuk mendeteksi persentase kemiripan suatu naskah dalam multibahasa.

Menurut Warsilah yang merupakan dosen Jurusan Sistem Informasi itu, ide membuat sistem pendeteksi plagiat ini muncul setelah ia melihat kemudahan masyarakat akademik melakukan copy paste dari artikel dan jurnal dengan kemajuan sistem informasi saat ini. Padahal, itu merupakan bentuk pelanggaran dan pelecehan hak intelektual orang lain.

“Saya berharap, dengan adanya Software ini akan memberikan dampak membantu meminimalisasi adanya plagiarism di Indonesia, sehingga dapat tercapai iklim akademik yang jujur dan bertanggung jawab," ujar Warsilah, Kamis (19/12).

Sistem pendeteksi yang digagas lulusan Magister ITB 2007 ini memiliki sejumlah keunggulan.

Perangkat ini dapat mendeteksi kesamaan karya ilmiah dengan tingkat kesamaan lebih akurat, mencapai 90 persen.

Hal itu disebabkan, selain difasilitasi dengan pembanding kata yang bersinonim, Software ini juga bisa mendeteksi kesamaan katanya dari bermacam-macam tipe file. Mulai dari docx, TXT, hingga PDF.

Warsilah mengatakan, pada Software ciptaannya ini, pendeteksian penjiplakan akan dilakukan secara bertahap. Tahap pertama akan menghasilkan sistem yang dapat melakukan pemindaian atau penelusuran terhadap kemiripan kalimat di dalam suatu dokumen berbahasa Indonesia.

Tahap lainnya, juga akan ada pemindaian dokumen yang dilakukan dari dokumen berbahasa Indonesia. Kemudian, diterjemahkan terlebih dahulu ke dalam bahasa Inggris dan dilakukan pemindaian. [rol/duniaterkini.com]

Mutu Pendidikan Indonesia Terendah di Dunia

Programme for International Study Assessment (PISA) 2012 menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan peringkat terendah dalam pencapaian mutu pendidikan. Pemeringkatan tersebut dapat dilihat dari skor yang dicapai pelajar usia 15 tahun dalam kemampuan membaca, matematika, dan sains.

"Selama mengikuti studi tersebut sejak 2000, Indonesia selalu berada pada salah satu peringkat rendah," kata anggota Koalisi Pendidikan, Ade Irawan, melalui rilis pers pada Jumat, 6 Desember 2013.

Dalam studi ini, mutu pendidikan Indonesia yang rendah dikonfirmasikan dengan anggaran dan biaya pendidikan yang langsung dibayar masyarakat naik signifikan dari tahun ke tahun. PISA merupakan studi internasional yang diselenggarakan Organisation for Economic Co-operation and Development.

Indonesia mengikuti dua tes internasional, yaitu studi Trends in International Mathematics and Science Studies dan Progress in Internatioal Reading Literacy Studi untuk murid sekolah dasar. "Indonesia juga berada di ranking terendah dalam kedua studi tersebut," kata Ade.

Menurut Ade, PISA harus dilihat secara kritis. "Karena di balik itu ada agenda yang bersifat ideologis-liberalistis yang hanya mengukur tiga kemampuan dasar murid dan tidak memadai dijadikan dasar dalam pengambilan kebijakan pendidikan nasional," kata Ade.

Ade mengatakan, selayaknya Kementerian Pendidikan mengembangkan sistem assessment bersifat nasional dan mencerminkan keberagaman anak. Mutu pendidikan Indonesia yang rendah, sebagaimana tercermin dari hasil studi PISA, memperlihatkan ada sesuatu yang salah dalam sistem persekolahan dan kebijakan pendidikan Indonesia.

Beberapa di antara masalah itu adalah ujian nasional dan berbagai tes lainnya; perubahan kurikulum dari waktu ke waktu; program sekolah unggulan (sekolah bertaraf internasional); kompetisi dalam berbagai Olimpiade; penambahan jam belajar; serta sertifikasi dan ujian kompetensi guru. "Ternyata gagal meningkatkan mutu pendidikan," kata Ade.

Menurut Ade, Koalisi Pendidikan mendesak agar rezim pendidikan neoliberal, yang terlihat dari kebijakan pendidikan nasional beberapa dekade terakhir, diakhiri. "Kami mendesak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mempersiapkan agenda reformasi pendidikan," kata Ade.

[tempo.co/duniaterkini.com]
 
Copyright © 2015. Muslim Magazine.
Design by Herdiansyah Hamzah. Published by Themes Paper. Distributed By Kaizen Template Powered by Blogger.
Creative Commons License