Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Brother Yuri Hayamato : Aku Telah Kembali ke Islam

Seorang “brother” kita yang berdarah Jepang-Vietnam berusia 19 tahun, Yuri Hayamato (ubah nama sekarang Mohammed Kamarov) menerima Islam dengan perjalanan spiritualnya yang panjang. Ia adalah seorang mahasiswa dan lahir di sebuah keluarga ateis. Brothers dan sisters lain memetik hikmah dari kisah inspirasi beliau, betapa Yuri menghadapi kebencian, kemarahan, laporan dan pemberitaan media yang palsu mengenai islam, dan rasa ingin tahu membuat dia akhirnya memilih & menerima agama sempurna ini.

“Assalamualaykum… Aku kembali ke Islam pada 4 Juni 2012. Alhamdulillah, Aku terlahir dari orang tua Vietnam – Jepang…” sapaan brother Yuri buat kita semua.

Lahir sebagai keluarga besar ateis, membuat brother tak nyaman karena ada banyak tanda Tanya di setiap langkah hidupnya. “Nah , Ateis juga memiliki beberapa keyakinan (sesembahan), bukan hanya menyembah nenek moyang kami, melainkan sesembahan banyak benda juga, maka saya akan menyebutnya lebih dari sebuah tradisi dan budaya lama. Tapi aku tidak pernah merasa nyaman dengan itu karena itu tidak masuk akal. Aku tidak pernah berpikir bahwa kami bisa mendapat berkat dari semua sesembahan itu.” Ujarnya dengan yakin.

“Awal hidup, kondisiku buruk, dan aku disebut sebagai anak yang bermasalah dan sebagian besar urusan sehari-hari adalah hal sedih dan mengakibatkan banyak kesedihan dan rasa sakit bagi keluarga. Aku juga terbilang anak yang bandel, sehingga perlu dipukuli oleh ibu. Di kelas, teman sekelas selalu menggangguku karena tubuhku lebih kecil dan berbeda (saya masih kecil dan terlihat lebih muda dibanding teman sebaya). Kombinasi masalah ini di rumah dan sekolah memiliki dampak negatif dalam pikiran. Aku merasa seperti ‘harus membalas dendam dengan semua orang, aku jahat’. Aku berniat membunuh semua orang yang pernah ‘membully-ku’, Jadi aku mulai merencanakan dan merencanakan beberapa hal, tapi gagal total.” Kenangnya.

Pada kelas 9, ia belajar tentang agama di kelas sejarah dan awalnya berpikir bahwa Hindu itu keren juga, tetapi seluruh ide (tentang memeluk agama itu) hanya menguap selama beberapa waktu.

Pada kelas 10, saat chatting dengan teman sekelasnya, ia bercanda dengan teman-teman bahwa tempat kelahirannya di Irak dan mereka segera mulai ‘membully’ lagi, beberapa menyebutnya sebagai teroris, beberapa memanggilnya dengan sebutan “Osama bin Laden dan Taliban.”

“Aku tahu sedikit (dari membaca berita-berita…) tentang mereka seperti Taliban, Osama Bin Laden, Al-Qaeda. Jadi dulu aku berpikir Muslim itu teroris. Tapi aku masih tenggelam dalam hal-hal lain dalam hidup, aku belum berminat meneliti kenapa pikiran itu muncul. Tapi kemudian selalu banyak pertanyaan dalam pikiran ini bahwa mengapa (banyak berita)Muslim melakukan hal-hal buruk. Aku mulai melakukan riset sederhana dan bersandar bahwa itu tidak sederhana dan kabar yang banyak motif sebagaimana media beritakan. Kemudian aku jadi tau bahwa mereka (muslimin) adalah korban dari pemerintah Amerika. CIA menciptakan mereka semua. Jadi saya merasa lebih nyaman dengan Islam dan mengubah pandangan bahwa Muslim adalah korban ‘pembullyan’ (yang lebih besar) lagi. Pandangan saya sedikit berubah tentang Islam dan Muslim.” sambung Brother Yuri.

“Pada 2012 ada rumor bahwa dunia akan berakhir juga memainkan perannya sebagaimana prinsip saya hanya percaya pada ilmu pengetahuan, dan ternyata ilmuwan menjelaskan tentang insisden 2012 dan keberadaan Tuhan. Saya selalu bertanya pada diri sendiri, bagaimana segala sesuatu ada, bagaimana bisa ada ledakan Big Bang. Saya mulai menggunakan Facebook pada tahun 2011 dan menambahkan teman-teman. Saya tahu bahwa Indonesia dan Malaysia adalah dua negara Islam, jadi saya berteman dengan beberapa orang Indonesia dan beberapa warga Malaysia. Saya belajar banyak hal dari mereka tentang Islam. Saya melihat bagaimana cara mereka dalam hidup, bangga menjadi seorang Muslim, cara wanita berpakaian Hijab, cara umat Islam memperlakukan satu sama lain sebagai saudara, cara mereka menyembah Allah.

Pandangan saya tentang Islam berubah lebih lanjut dan saya mulai percaya bahwa hanya Islam (yang paling bisa masuk akal) menjadi agama yang benar, saya ingin menjadi seorang Muslim, tapi saya pikir tidak ada Islam di Hanoi, karena Islam tidak populer di Vietnam. Tapi aku tahu di Sai Gon ada banyak Muslim. Jadi saya memutuskan bahwa saya akan pindah ke sana sehingga saya bisa kembali ke Islam! Alhamdulillah, saya cari di internet : Islam di Hanoi. Dan saya menemukan hanya ada satu masjid di Vietnam Utara.

Terima kasih kepada teman-teman Indonesia yang menjelaskan saya tentang Islam. Saya mencoba untuk mengirim email ke masjid , tetapi tak mendapat respon. Kedua kalinya saya mengirim email lagi pada tanggal 31 Mei 2012. Saya mengirim mereka email untuk ketiga kalinya.

Alhamdulillah, pada 2 Juni 2012 mereka menanggapi permintaan saya dan pada 4 Juni 2012. Imam Abbas memanggil saya dan mengatakan kepada saya untuk datang ke Masjid dan menjadi seorang Muslim sejati. Alhamdulillah, setelah menyelesaikan syahadat, aku menjadi seorang Muslim. Alhamdulillah.” Brother Kamarov sangat bersyukur.

Selanjutnya, yang dihadapi brother ini hampir sama dengan banyak muallaf yang kukenal. Ia dicaci maki dan dimarah habis-habisan oleh keluarganya, terutama ayah dan ibu kandung sendiri. Setiap hari hinaan “Islam adalah agama teroris” serta caci maki atas pilihannya menjadi menu rutin, dan ia hanya datang ke Masjid, sholat, berdoa dan menambah pelajaran serta makin banyak berdoa.

“Sekarang saya merasa hidup saya jauh lebih baik. Saya punya Allah yang selalu bersama saya. Awalnya, saya malas sholat dan memiliki beberapa kesulitan dalam praktek sholat juga. Astaghfirullah, saya membaca Qur’an dan tahu bahwa saya harus sholat wajib lima kali sehari. Jadi saya mencoba untuk tidak pernah kehilangan salah satu sholat fardhu. Hidup saya memiliki begitu banyak tantangan, kadang-kadang ada rasa ‘kehilangan iman’ saya tapi saya terus berusaha menambah pengetahuan Islam! Karena saya belajar dari Al-Qur’an bahwa hidup adalah sementara. Kehidupan setelah ini jauh lebih penting.

Tentu saja, ada beberapa cacat dalam karakter saya tapi saya selalu mencoba untuk memperbaikinya, insya Allah. Menjadi seorang Muslim, artinya saya harus menjadi anak yang baik, jadi saya selalu ingin menjadi baik. Tidak seperti saya di masa lalu. Saya selalu tersenyum pada orang-orang dengan tujuan saya adalah untuk membuat saya dan orang-orang merasa senang. Karena Senyum adalah Sunnah. Saya bertemu banyak teman yang beragama Islam di dunia maya juga. Bahkan kadang-kadang mereka salah paham, tapi aku selalu terus berpikir untuk langsung memaafkan. Saya selalu siap untuk memaafkan orang-orang, lapang dada dan tidak lagi ingin membalas dendam.” urainya bijak.

Ia melihat beberapa pembenci Islam mengatakan sesuatu yang buruk tentang Islam dan brother mencoba untuk menemukan alasan mengapa mereka melakukan itu. Ia mulai sering melakukan perdebatan dengan mereka namun ‘merasa keliru’ karena pengetahuan Islamnya belum begitu baik, dan karena ujian masuk perkuliahan tahun ini, ia tidak bisa meluangkan waktu belajar Islam lebih banyak. “Tapi saya tidak pernah meninggalkan Islam karena (cacian, hasutan, fitnah, dll) dari beberapa pembenci Islam. Islam telah mengubah hidup saya dari buruk menjadi baik, Islam mengajarkan saya untuk hidup bahagia bahkan dalam kesedihan, kondisi baik atau buruk. Selalu harus bijak dan tidak mengeluh tentang segala sesuatu. Jangan pernah berpikir bahwa kekayaan adalah satu-satunya cara nyaman, hindari minum alkohol, menghindari melihat wanita dan harus menundukkan pandangan di depan mereka. Alhamdulillah… Saya masih belum menjadi seorang Muslim yang baik tapi selalu ingin menjadi Muslim yang baik, insya Allah.

Mimpi saya adalah menjadi seorang guru Islam dengan belajar tentang aturan Islam, bahasa Arab atau menjadi penerjemah, doakan, Insya Allah. Setelah mengambil sebuah pintu masuk ke universitas bulan Juli ini saya juga ingin belajar bahasa Rusia. Tolong doakan saya saudara-saudaraku… Saya mencintai kalian semua demi Allah. Karena saudara muslim. Islam bukan tentang menikmati hidup ini, melainkan adalah tentang bagaimana untuk menyembah Tuhan dan hidup dengan baik, itu sebabnya hidup ini disebut sementara! Itu sebabnya kita harus menyebarkan Shahada dengan meneruskan dakwah. Kita harus mengatakan bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan dan Muhammad adalah nabi terakhir. Islam adalah satu-satunya cara untuk mengakses Paradise.

Untuk kalian para pembenci Islam, Islam tidak pernah mengajarkan manusia untuk menindas istri mereka. Ini Haram. Penindasan perempuan terjadi di mana-mana di dunia ini. Ini didasarkan pada perilaku buruk suami mereka, bukan agama suami mereka! Islam tidak pernah mengajarkan orang untuk membunuh orang yang tidak bersalah. Orang jahat di mana-mana dan ada di setiap agama apa saja, ada yang menggunakan nama Islam untuk keuntungan mereka sendiri, itu adalah pelanggar. Mereka tidak pernah berjuang untuk Allah, mereka hanya ingin kekuasaan dan Allah tahu yang terbaik. Memaksa orang untuk menerima Islam juga Haram! Jadi sebagai seorang Muslim, saya mengundang Anda untuk masuk Islam. Jika Anda punya waktu ,silakan belajar Islam dengan hati-hati dan dengan hati yang baik. Saya akan selalu berdoa untukmu. Nama hijrah saya adalah Muhammad Kamarov ( Kamarov adalah nama Rusia pilihanku). Allah hafiz, semoga Allah memberkati kita semua, maafkan atas kekurangan…” Sungguh kalimat-kalimat yang sangat bermakna, semoga brother Kamarov istiqomah, dan kisahnya dapat menjadi pelajaran bagi kita semua, aamiin yaa robbal ‘alamiin. [islampos/duniaterkini.com]

Wilfried Hoffman, Mantan Direktur NATO Masuk Islam

Pada tahun 1983-1987, Wilfried Hoffman ditunjuk jadi Direktur Informasi NATO. NATO adalah sebuah organisasi internasional yang menekankan kerjasama militer di antara negara-negara blok Barat. Pada tahun 1987, Hoffman ditugaskan sebagai duta besar untuk Aljazair dan duta besar di Maroko tahun 1990-1994 berikutnya. Dua negara itu mempunyai penduduk beragama Islam yang cukup banyak. Apa yang terjadi dengan Hoffman? Ia masuk Islam!

Dilahirkan dalam keluarga Katholik di Jerman pada 3 Juli 1931, Hoffman meraih gelar Doktor di bidang ilmu hukum dan yurisprodensi dari Universitas Munich, Jerman tahun 1957.

Selama menjadi pemeluk Kristen, Hoffman terus diburu oleh berbagai pertanyaan teologi, terutama mengenai dosa warisan. Ia juga tidak puas dengan jawaban mengapa tuhan memiliki anak dan harus pasrah disiksa hingga mati di kayu salib.

“Ini menunjukkan bahwa Tuhan itu tidak punya kuasa,” tegasnya.

Maka ia pun membandingkan berbagai “wahyu” yang ada. Setelah membandingkan kitab suci Yahudi, Kristen dan Islam, Hoffman mendapati Islam-lah yang secara tegas menolak dosa warisan. Ia juga mendapati, dalam Islam seseorang langsung berdoa kepada Allah, bukan melalui perantara atau tuhan-tuhan lainnya.

“Seorang Muslim hidup di dunia tanpa pendeta dan tanpa hierarki keagamaan; ketika berdoa, ia tidak berdoa melalui Yesus, Maria, atau orang-orang suci, tetapi langsung kepada Allah,” kata Hoffman.

Tauhid yang murni di dalam Islam itulah yang akhirnya membuat Hoffman memeluk Islam. Ia pun kemudian menambahkan Murad sebagai nama depannya.

Sebelum di Aljazair dan Maroko sebenarnya Hoffman telah memeluk Islam. Namun ia baru memublikasikan keislamannya setelah menulis sebuah buku yang berjudul “Der Islam als Alternative,” (Islam sebagai Alternatif) tahun 1992.

Keislaman Hoffman dilandasi oleh rasa keprihatinannya pada dunia Barat yang mulai kehilangan moral. Agama yang dulu dianutnya dirasakan tak mampu mengobati kondisi tersebut. Apalagi ketika ia bertugas menjadi atase di Kedutaan besar Jerman di Aljazair. Ia menyaksikan sikap umat Islam Aljazair yang begitu sabar, kuat, dan tabah menghadapi berbagai macam ujian dan cobaan dari umat lain. Atas dasar itu dan sikap orang Eropa yang mulai kehilangan jati diri dan moralnya, Hoffman memutuskan untuk memeluk agama islam.

Sekarang ini, Hoffman yang juga merupakan seorang doktor, banyak terlibat aktif dalam organisasi keislaman, seperti OKI. Ia sampaikan pemikiran-pemikiran briliannya untuk kemajuan Islam dan pada September 2009 lalu, ia dinobatkan sebagai Muslim Personality of The Year oleh Dubai International Holy Qur’an Award (DIHQA).

Dr Hofmann melanjutkan karir profesionalnya sebagai seorang diplomat Jerman dan perwira NATO selama lima belas tahun setelah ia menjadi Muslim. ” Saya tidak mengalami diskriminasi dalam kehidupan profesional saya,” katanya. Pada tahun 1984, tiga setengah tahun setelah keislamannya, Presiden Jerman Dr Carl Carstens memberikan gelar Order of Merit Republik Federal Jerman. Pemerintah Jerman medistribusikan bukunya “Diary of a Muslim Germany” untuk semua misi luar negeri Jerman di negara-negara Muslim sebagai alat analisis.

Yang paling tegas dalam dirinya ketika ia menjadi Muslim adalah ia sangat menolak alkohol. Dan yang paling sulit adalah jika bulan Ramadhan ia harus menerima tamu. Sebagai seorang pejabat, ia jelas harus menjamu tamunya setidaknya untuk makan siang. Namun sebagai Muslim, ia harus melakukan shaum. Alhasil, ia seringkali menjamu makan siang para tamunya sementara piringnya sendiri tetap kosong.

Akhirnya, pada tahun 1995 , ia secara sukarela mengundurkan diri dari Dinas Luar Negeri untuk mendedikasikan dirinya kepada Islam. [bulletinislam/duniaterkini.com]

Si Pitung, Legenda Pejuang Islam Asal Betawi

Siapa yang tak kenal Si Pitung yang mempunyai teman bernama Dji-ih? Dia adalah seorang tokoh pahlawan lokal asli dan sudah melegenda di benak rakyat Betawi. Nama besarnya sudah sangat terkenal di zamannya dan sangat ditakuti lawan dan disegani kawan. Dia semacam “Robin-hood” asli Indonesia. Si Pitung selalu membela rakyat kecil dari penindasan dan penjajahan kompeni. Bagi VOC , Pitung merupakan TERORIS dan berpotensi menjadi ancaman terbesar bagi kelangsungan usaha mereka di Batavia saat itu.

Berikut kilasan sejarah Si Pitung yang melegenda tersebut :

Si Pitung lahir di daerah Pengumben, di sebuah kampung di Rawabelong yang pada saat ini berada di sekitar lokasi Stasiun Kereta Api Palmerah. Ayahnya bernama Bang Piung dan ibunya bernama Mpok Pinah. Si Pitung menerima pendidikan di pesantren yang dipimpin oleh Haji Naipin, seorang pedagang kambing.

Pitung merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara, pasangan suami-istri Piun dan Pinah. Berdasarkan cerita rakyat (folklore) yang masih hidup di masyarakat Betawi, sejak kecil belajar mengaji di langgar (mushala) di kampung Rawa Belong. Dia, menurut istilah Betawi, ‘orang yang denger kate’. Dia juga ‘terang hati’, cakep menangkap pelajaran agama yang diberikan ustadznya, sampai mampu membaca (tilawat) Alquran. Selain belajar agama, dengan H Naipin, Pitung –seperti warga Betawi lainnya–, juga belajar ilmu silat. H Naipin, juga guru tarekat dan ahli maen pukulan. Masa mudanya, dihabiskan dengan mempelajari ilmu silat dengan pengawasan gurunya di Rawabelong selama mempelajari silat.

Kehebatan gerak silat Pitung diuji ketika usai menjual kambing di Tanah Abang. Uang hasil penjualan dicopet segerombolan pemuda. Terjadilah perkelahian dengan kawanan pencopet. Dalam beberapa jurus, seluruh copet kampung itu terkapar ditanah. Melihat kehebatan korbannya, kawanan pencopet itu malah meminta agar Pitung menjadi pemimpin mereka.

Menjadi pemimpin pencopet, Pitung mulai beraksi. Namun kali ini korbannya bukan warga biasa karena ia pernah berjanji untuk membela warga yang lemah. Selama belajar silat itu, Pitung merasakan kehidupan orang Betawi dan Belanda (Eropa) sangat kontras. Dibalik penjajah yang disebut tuan besar, termasuk tuan-tuan tanah yang hidup mewah, Pitung melihat penderitaan rakyat kecil di sekitarnya.

Kondisi inilah yang membuat ia suka melakukan perampokan terhadap orang-orang kaya dan tuan-tuan tanah, yang membelenggu petani dengan berbagai blasting (pajak). Hasil rampokannya itu dibagi-bagikan kepada masyarakat miskin.

Menurut Damardini (1993:148) dalam Van Till (1996):

Pitung memang perampok. Mungkin saja Haji Samsudin dipukuli ketika itu. Kalau menurut istilah sekarang, Pitung itu pengacau, teroris dan dicari oleh Pemerintah. Pitung memang jahat. Pekerjaannya merampok dan memeras orang-orang kaya. Menurut kabar, hasil rampokannya dibagikan pada rakyat miskin. Namun sebenarnya tidak. Tidak ada perampok yang rela membagi hasil rampokannya dengan cuma-cuma, bukan? Menurut kabar, Pitung menyumbangkan uangnya pada mesjid-mesjid. Saat itu mesjid hanya ada di Pekojan, Luar Batang, dan Kampung Sawah. Tidak ada bukti bahwa Pitung mendermakan uangnya di sana.’

Pitung yang menjadi karakter sebagai Robin Hood versi Betawi dikembangkan oleh Lukman Karmani (Till, 1996). Karmani menulis novel Si Pitung. Dalam novel ini, dikisahkan bahwa Si Pitung sebagai pahlawan sosial. Menurut Rahmat Ali, ‘Pitung sebagai tokoh kisah Betawi masa lampau memang dikenal sebagai perampok, tetapi hasil rampokan itu digunakan untuk menolong orang-orang yang menderita. Dia adalah Robin Hood Indonesia. Walaupun demikian pihak yang berwenang tidak memberikan toleransi, orang yang bersalah harus tetap diberi hukuman yang setimpal’ (Rahmat Ali 1993:7).

Beragam pro dan kontra menyelubungi di balik kisah legenda Si Pitung ini, tetapi pada dasarnya tokoh Si Pitung adalah cerminan pemberontakan sosial yang dilakukan oleh “Orang Betawi” terhadap penguasa pada saat itu, yaitu Belanda. Apakah hal ini benar atau tidak, kisah Si Pitung begitu harum didengar dari generasi ke generasi oleh masyarakat Betawi sebagai tanda pembebasan sosial dari belenggu penjajah. Hal ini ditunjukkan dari Rancak Pitung di atas bagaimana Si Pitung begitu ditakuti oleh pemerintah Belanda pada saat itu.

Pada tahun 1892, Pitung dan kawanannya ditangkap oleh polisi sesudah Kepala Kampung Kebayoran yang menerima 50 ringgit (Hindia Olanda 26-8-1892:2) memberi nasihatuntuk menangkap Si Pitung. Setelah ditangkap, kurang dari setahun kemudian, pada musim semi 1893, Pitung dan Dji-ih merencanakan kabur dengan cara yang misterius dari tahanan Meester Cornelis. Sebuah investigasi kemudian dilakukan oleh Asisten Residen sendiri, tetapi tidak berhasil. Karena kejadian tersebut, Kepala Penjara dicurigai melepaskan si Pitung dan Dji-ih. Akhirnya seorang Petugas Penjara mengakui bahwa dia meminjamkan sebuah belincong (sejenis linggis pencungkil) kepada Si Pitung, yang kemudian digunakan untuk membongkar atap dan mendaki dinding (Hindia Olanda, 25-4-1893:3; Lokomotief 25-4 1893:2). Akibatnya, Si Pitung lepas lagi.

Berdasarkan rumor, Pitung pernah menampakkan diri kepada seorang wanita di sebuah perahu dengan nama Prasman. Detektif mencoba mencari di kapal tersebut (Hindia Olanda, 12-5-1893:3), tetapi hasilnya Pitung tidak dapat ditemukan. Karena sulitnya menemukan dan menangkap si Pitung, harga untuk penangkapan Pitung menjadi meningkat sebesar 400 Gulden. Pemerintah Belanda pada saat itu ingin menembak mati Pitung di tempat, tetapi sebagian pejabat mengatakan, jika Pitung ditembak justru akan menumbuhkan semangat patriotik, sehingga niat ini diurungkan oleh kepolisian Batavia untuk menembak ditempat walaupun pada akhirnya hal ini dilakukan juga.

Sebagai tindakan balas dendam, Pitung melakukan pencurian dengan kekerasan termasuk dengan menggunakan sejata api. Akhirnya Pitung dan Dji-ih membunuh seorang polisi intel yang bernama Djeram Latip (Hindia Olanda 23-9-1893:2). Dia juga mencuri dari wanita pribumi, Mie, termasuk pakaian laki-laki serta pistol revolver dengan pelurunya. Pernyataan ini didukung oleh Nyonya De C, seorang pedagang wanita di Kali Besar yang menyatakan bahwa Pitung mencuri sarung yang bernilai ratusan Gulden dari perahunya (Hindia Olanda 22-11-1892:2).

Dji-ih ditangkap kembali di kampung halamannya ketika sedang menderita sakit. Pada saat itu Dji-ih pulang ke kampung halamannya untuk memperoleh pengobatan. Kemudian dia pindah ke rumah orang tua yang dikenal. Kepala kampung pada saat itu (Djoeragan) melaporkannya ke Demang kemudian memerintahkan tentara untuk menangkap Dji-ih dirumahnya. Karena dia terlalu sakit, dia tidak berdaya untuk melawan, walaupun pada saat itu pistol dalam jangkauannya (Hindia Olanda 19-8-1893:2). Dia menyerah tanpa perlawanan. Untuk menutupi hal ini kemudian Pemerintah Belanda melansir di Java-Bode (15-8-1893:2) bahwa Dji-ih kabur ke Singapura. Informan yang bertanggungjawab melaporkan Dji-ih kemudian ditembak mati oleh Pitung di suatu tempat yang tak jauh dari Batavia beberapa minggu kemudian.

“’Itoe djoeragan koetika ketemoe Si Pitoeng betoelan di tempat sepi troes, Si djoeragan menjikip pada Si Pitoeng dan dari tjipetnja Si Pitoeng troes ambil pestolnja dari pinjang, lantas tembak si djoeragan itoe menjadi mati itoe tempat djoega.’ (Hindia Olanda 1-9-1893:2.)

Beberapa bulan kemudian, di bulan Oktober, Kepala Polisi Hinne mempelajari dari informan bahwa Pitung terlihat di Kampung Bambu, kampung di antara Tanjung Priok dan Meester Cornelis. Kemudian dalam perjalanannya Hinne diberi laporan bahwa Pitung telah pindah ke arah pekuburan di Tanah Abang (Hindia Olanda 18-10-1893). Kemudian, Hinne menembaknya dalan penyergapan itu. Pitung ditembak di tangan, kemudian Pitung membalasnya. Kemudian Hinne menembak kedua kalinya, tetapi meleset, dan peluru ketiga mengenai dada dan membuatnya terjerembap di tanah. Sehari sesudah kematiannya, hari Senin, jenazah dibawa ke pemakaman Kampung Baru pada jam 5 sore.

Setelah Hinne menangkap Pitung, setahun kemudian dia dipromosikan menjadi Kepala Polisi Distrik Tanah Abang untuk mengawasi seluruh Metropolitan Batavia-Weltevreden. Setelah kejadian tersebut Pemerintah Hindia Belanda melakukan pencegahan agar “Pitung-Pitung” yang lain tidak terjadi lagi di Batavia. Bahkan karena ketakutannya makam Si Pitung setelah kematiannya, dijaga oleh Pemerintah Belanda agar tidak diziarahi oleh masyarakat pada waktu itu.

Berdasarkan cerita legenda, Si Pitung dapat dibunuh oleh Belanda dengan beragam argumen tersebut di atas. Menurut Hindia Olanda (18-10-1893:2), sebelum ditangkap Pitung dalam keadaan rambut terpotong, beberapa jam sebelum kematiannya pada hari Sabtu. Seperti yang diceritrakan oleh legenda bahwa kesaktian Si Pitung hilang akibat jimat-nya diambil orang (Versi Film Si Pitung Banteng Betawi), tetapi yang menarik, versi lain menyatakan, bahwa Si Pitung dapat di-”lemahkan” jika dipotong rambut-nya. Berdasarkan koran Hidia Olanda dikatakan bahwa sebelum kematiannya Si Pitung telah dipotong rambutnya.

Rumah Si Pitung yang terletak di Marunda, Cilincing, Jakarta Utara, diperkirakan dibangun pada abad ke 19. Si Pitung sendiri lahir di Rawa Belong, Jakarta Barat. Karena keberaniannya melawan penjajahan Belanda membuat nama si Pitung menjadi buah bibir masyarakat masa itu hingga kini.

Dimanakah makam Si Pitung sekarang?  Sesepuh Rawabelong, Nur Ali Akbar (65) saat ditemui merdeka di rumahnya, Jalan Yahya, RT 2, RW, 7, Sukabumi Utara, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Sabtu (8/9).

“Ya di situ makam Pitung, pahlawan asli Rawabelong. Di depan kantor Telkom itu,” jelas sesepuh Rawabelong, Nur Ali Akbar

Lebih lanjut, meski tidak ada bukti otentik, semisal batu nisan yang memberikan informasi tentang siapa yang dimakamkan, pria yang juga ahli beladiri Betawi, Cingkrik ini yakin jika yang dikebumikan itu adalah si Pitung, Robin Hood Betawi.

“Dari cerita bapaknya kakek pak haji nih, di makam itu, Pitung dimakamkan.”

Meski tidak mengetahui tanggal dan tahun kapan pastinya Pitung meninggal dunia, Haji Nunung membantah jika Pitung memiliki ilmu Rawa Rontek, seperti yang selama ini beredar. Karena menurutnya ilmu Rawa Rontek adalah ajaran agama Hindu.

Melihat kondisi makam yang mengenaskan. Dari pantauan merdeka.com, seperti kondisi makam yang dijelaskan di atas, peristirahatan Pitung itu juga tidak memiliki pengurus makam. Bahkan untuk membersihkan daun-daun bambu yang berguguran, terkadang petugas Telkom berinisiatif sendiri untuk membersihkannya.

Untuk itu, Haji Nunung berharap kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta khususnya, pemerintah kota Jakarta Barat untuk memberikan perhatian terhadap makam Pitung. Perhatian yang diharapkannya, pemerintah mau mendirikan semacam monumen.

Referensi :
  • Margereet Van Till, 1996, In Search of Si Pitung: The history of an Indonesian legend, dalam Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 152, no: 3, Leiden, 461-482)
  • Basoeki Koesasi, 1992, Lenong dan Si Pitung, Centre of Southeast Studies-Australian National University.
  • Palupi Damardini , 1993, Cerita Si Pitung Sebagai Sastra Lisan: Analisis Terhadap Struktur Cerita, Tesis Master, Fakultas Sastra Universitas Indonesia)
  • Rahmat Ali, 1993, Cerita Rakyat Betawi I, Jakarta: PT Gramedia Widiasarana

Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi (1860-1916 M)

Imam Masjidil Haram

Syeikh Ahmad Khatib Al Minangkabawi merupakan salah satu ulama besar Nusantara kelas dunia. Puncak karier ulama asal Ranah Minang (Minangkabau) tersebut  adalah sebagai guru besar, imam sekaligus khatib di Masjidil Haram, Mekah Al Mukaramah pada penghujung abad 19 hingga awal abad 20 Masehi.

Di Tanah Suci umat Islam sedunia tersebut, Ahmad Khatib juga diamanahi sebagai mufti Mazhab Syafi’i. Di kiblat seluruh umat Islam tersebut Ahmad Khatib juga menjadi guru bagi ulama-ulama Melayu dan Jawa.

Banyak murid Ahmad Khatib yang diajari fiqih Syafi’i. Kelak di kemudian hari, dari ulama besar ini banyak lahir ulama-ulama besar di Indonesia, di antaranya, Haji Abdul Karim “Haji Rasul” Amrullah (ayah Buya Hamka), Haji Abdullah Ahmad (pendiri Sumatera Thawalib); KH Hasyim Asy’ari (pendiri Nahdlatul Ulama) dan KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah).

Keturunan Padri

Nama lengkap Ahmad Khatib adalah Al ‘Allamah Asy Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah bin ‘Abdul Lathif [bin ‘Abdurrahman] bin ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz Al Khathib Al Minangkabawi [Al Minkabawi] Al Jawi Al Makki Asy Syafi’i Al Atsari Rahimahullah.

Ia dilahirkan di Koto Tuo, Desa Kota Gadang, Kec Ampek Koto, Kab Agam, Prov Sumatera Barat pada Senin 6 Dzul Hijjah 1276 H bertepatan dengan 26 Mei 1860 M di tengah keluarga bangsawan Padri (ulama) yang benar-benar menentang penjajahan Belanda.

Abdullah, kakeknya atau buyut menurut riwayat lain, adalah seorang ulama kenamaan. Oleh masyarakat Koto Gadang, Abdullah ditunjuk sebagai imam dan khatib. Sejak itulah gelar Khatib Nagari melekat di belakang namanya dan berlanjut ke keturunannya di kemudian hari.

Ketika masih di kampung kelahirannya, Ahmad kecil sempat mengenyam pendidikan formal, yaitu pendidikan dasar dan berlanjut ke Sekolah Raja atau Kweek School yang tamat tahun 1871 M.
Di samping belajar di pendidikan formal yang dikelola Belanda itu, Ahmad kecil juga mempelajari mabadi’ (dasar-dasar) ilmu agama dari Syekh Abdul Lathif, sang ayah. Dari sang ayah pula, Ahmad kecil menghafal Alquran dan berhasil menghafalkan beberapa juz.

Pada tahun 1287 H, Ahmad kecil diajak oleh ayahnya ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji. Setelah rangkaian ibadah haji selesai ditunaikan, Abdullah kembali ke Sumatera Barat sementara Ahmad tetap tinggal di Mekah untuk menyelesaikan hafalan Alqurannya dan menuntut ilmu dari para ulama-ulama Mekah, terutama yang mengajar di Masjid Al Haram. Di antaranya adalah Sayyid Umar bin Muhammad bin Mahmud Syatha Al Makki Asy Syafi’i   (1259-1330 H);  Penulis I’anatuth Thalibin Sayyid Bakri bin Muhammad Zainul ‘Abidin Syatha Ad Dimyathi Al Makki Asy Syafi’I (1266-1310 H) dan Mufti Madzhab Syafi’i Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan (wafat 1304).
Salah satu kebiasaan, Ahmad Khatib di Mekah adalah menyeringkan diri mengunjungi toko buku milik Muhammad Shalih Al Kurdi yang terletak di dekat Masjid Al Haram untuk membeli kitab-kitab yang dibutuhkan atau sekadar membaca buku saja jika belum memiliki uang untuk membeli.

Karena seringnya Ahmad Khatib mengunjungi toko buku itu membuat pemilik toko menaruh simpati kepadanya, terutama setelah mengetahui kerajinan, ketekunan, kepandaian dan penguasaannya terhadap ilmu agama serta keshalihannya.

Ketertarikan Al Kurdi terhadap Ahmad Khatib dibuktikan dengan dijadikannya ulama asal Minangkabau tersebut sebagai menantu. Ahmad Khatib sempat ragu menerima lamaran karena tidak adanya biaya yang mencukupi. Ia pun menolak dengan alasan apa adanya, akan tetapi justru tidak sedikit pun mengurangi niat besar dari Al Kurdi untuk menjadikannya menantu.

Bahkan Al Kurdi berjanji menanggung semua biaya pernikahan termasuk mahar dan kebutuhan hidup keluarga Ahmad Khatib. Hal itu dilakukan Al Kurdi karena ia melihat kepribadian Ahmad Khatib yang mulia dan keilmuannya yang luar biasa.

Tentang pengambilan Syeikhul Ahmad Khatib Rahimahullah sebagai menantu Al Kurdi, Syarif ‘Aunur Rafiq bertanya terheran kepada Al Kurdi: “Aku dengar Anda telah menikahkan putri Anda dengan lelaki Jawi yang tidak pandai berbahasa Arab kecuali setelah belajar di  Mekah?”
“Akan tetapi ia adalah lelaki shalih dan bertakwa,” jawab Al Kurdi seketika.

Pada kesempatan lain, Ahmad Khatib bertemu dengan Syarif ‘Anunur Rafiq dengan cara yang unik untuk menjadi Imam Masjid Al Haram. Suatu ketika ia shalat berjamaah yang diimami langsung Syarif 'Aunur Rafiq. Di tengah shalat, ternyata ada bacaan imam yang salah. Mengetahui kesalahan bacaan itu, Ahmad Khatib yang saat itu shalat di belakang imam dengan beraninya membetulkan bacaan imam. Usai shalat, Syarif 'Aunur Rafiq bertanya siapa gerangan yang telah membenarkan bacaannya tadi.

Lalu ditunjukkannya Ahmad Khatib yang tak lain adalah menantu sahabat karibnya, Shalih Al Kurdi yang terkenal dengan keshalihan dan kecerdasannya itu. Akhirnya Syarif 'Aunur Rafiq mengangkatnya sebagai imam dan khathib Masjid Al Haram untuk madzhab Syafi’i.

Namun sayang, di tempat suci itu, ada juga ulama yang dengki. Adalah Muhammad Sa’id Babsil, seorang ulama yang juga menjadi guru di  Masjidil Haram. Babsil yang juga Mufti dari Mazhab Syafi’i merasa iri dan merasa tidak senang melihat non Arab memperoleh tempat mengajar di pusat pengajaran Kota Mekah.

Maka ketika Ahmad Khatib baru mengajar di Masjidil Haram, ia dilempari batu oleh orang suruhan Babsil. Namun Babsil, tidak bisa berbuat lebih dari itu, lantaran Ahmad Khatib mendapatkan perlindungan dari Syarif ‘Aunur Rafiq.

Pembaharu Minangkabau

Meski hingga menghembuskan nafas terakhirnya di Mekah, namun ia juga dapat dikatakan sebagai pembaharu dan penerus kaum Padri di Minangkabau. Melalui kitab yang ditulisnya serta muridnya yang berasal dari Minangkabau Abdullah Ahmad, ia mengkritik kaum Adat yang meski sudah beragama Islam tetapi tetap menerapkan adat yang bertentangan dengan hukum Islam.

Salah satu adat yang diserang Ahmad Khatib adalah hukum waris. Kepakarannya dalam mawarits (hukum waris) telah membawa pembaharuan adat Minang yang bertentangan dengan Islam.
Dalam beberapa karya Ahmad Khatib menunjukkan bahwa barang siapa masih mematuhi lembaga-lembaga “kafir”, adalah kafir dan akan masuk neraka. Kemudian, semua harta benda yang diperoleh menurut hukum waris kepada kemenakan, menurut pendapat Ahmad Khatib harus dianggap sebagai harta rampasan.

Pemahaman dan pendalaman dari Ahmad Khatib ini kemudian dilanjutkan oleh gerakan pembaruan di Minangkabau, melalui tabligh, diskusi, dan muzakarah ulama dan zu’ama, penerbitan brosur dan surat-kabar pergerakan, pendirian sekolah-sekolah seperti madrasah-madrasah Sumatera Thawalib.
Ahmad Khatib pun memberikan kritik keras terhadap teologi Kristen yang dibawa penjajah Belanda. Dalam kitabnya yang berjudul Irsyadul Hajara fi Raddhi 'alan Nashara, ia menolak doktrin trinitas Kristen yang dipandangnya sebagai konsep tuhan yang ambigu.

Selain itu, Ahmad Khatib juga pakar dalam berbagai disiplin ilmu di antaranya ilmu falak,  geometri, trigonometri. Kajian dalam bidang geometri ini tertuang dalam karyanya yang bertajuk Raudat al-Hussab dan Alam al-Hussab.

Lebih dari empat puluh kitab telah ditulisnya. Karya tulisnya pun dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu karya-karya yang berbahasa Arab (setidaknya 26 kitab) dan karya-karya yang berbahasa Melayu dengan tulisan Arab (setidaknya 21 kitab).

Kebanyakan karya-karya itu mengangkat tema-tema kekinian terutama menjelaskan kemurnian Islam dan merobohkan kekeliruan tarekat yang bertentangan dengan Islam, bid’ah, takhayul, khurafat, dan adat-adat yang bersebrangan dengan Alquran & Sunah.

[mediaumat/duniaterkini.com]

Pattimura Bukan Kristiani, Melainkan Muslim

Menurut sejarawan Muslim Ahmad Mansur Suryanegara, Pattimura adalah seorang Muslim yang taat. Selain keturunan bangsawan, ia juga seorang ulama. Data sejarah menyebutkan bahwa pada masa itu semua pemimpin perang di kawasan Maluku adalah bangsawan atau ulama, atau keduanya.

Seperti diketahui, selama ini, dalam buku-buku sejarah, Kapitan Pattimura selalu disebut sebagai seorang Kristen. Inilah salah satu contoh deislamisasi dan penghianatan kaum minoritas atas sejarah pejuang Muslim di Maluku dan Indonesia pada umumnya.

Ahmad Lussy atau dalam bahasa Maluku disebut Mat Lussy, lahir di Hualoy, Seram Selatan (bukan Sapura seperti yang dikenal dalam sejarah versi pemerintah). Dia adalah bangsawan dari kerajaan Islam Sahulau, yang saat itu diperintah Sultan Abdurrahman. Raja ini dikenal pula dengan sebutan Sultan Kasimillah (Kazim Allah/Asisten Allah). Dalam bahasa Maluku disebut Kasimiliali.

Mansyur Suryanegara berpendapat, bahwa Pattimura itu marga yang masih ada sampai sekarang. Dan semua orang yang bermarga Pattimura sekarang ini beragama Islam. Orang-orang tersebut mengaku ikut agama nenek moyang mereka yaitu Pattimura.

Masih menurut Mansyur, mayoritas kerajaan-kerajaan di Maluku adalah kerajaan Islam. Di antaranya adalah kerajaan Ambon, Herat, dan Jailolo. Begitu banyaknya kerajaan sehingga orang Arab menyebut kawasan ini dengan Jaziratul Muluk (Negeri Raja-raja). Sebutan ini kelak dikenal dengan nama Maluku.

Mansyur pun tidak sependapat dengan Maluku dan Ambon yang sampai kini diidentikkan dengan Kristen. Penulis buku “Menemukan Sejarah” (yang menjadi best seller) ini mengatakan, “Kalau dibilang Ambon itu lebih banyak Kristen, lihat saja dari udara (dari pesawat), banyak masjid atau banyak gereja. Kenyataannya, lebih banyak menara masjid daripada gereja.”

Buku biografi Pattimura versi pemerintah yang pertama kali terbit, M Sapija menulis, “Bahwa pahlawan Pattimura tergolong turunan bangsawan dan berasal dari Nusa Ina (Seram). Ayah beliau yang bernama Antoni Mattulessy adalah anak dari Kasimiliali Pattimura Mattulessy. Yang terakhir ini adalah putra raja Sahulau. Sahulau bukan nama orang tetapi nama sebuah negeri yang terletak dalam sebuah teluk di Seram Selatan”.

Jadi asal nama Thomas Mattulessy dalam buku sejarah nasional adalah karangan dari Sapija. Sebenarnya Mattulessy bukanlah marga melainkan nama, yaitu Ahmad Lussy (Mat Lussy). Dan nama Thomas Mattulessy sebenarnya tidak pernah ada di dalam sejarah perjuangan rakyat Maluku (yang ada adalah Mat Lussy).

Perjuangan Pattimura

Pattimura bangkit memimpin rakyat Maluku menghadapi ambisi penjajah yang membawa misi Gold (emas/kekayaan), Gospel (penyebaran Injil), and Glory (kebanggaan). Perlawanan rakyat Maluku dilakukan karena kekhawatiran dan kecemasan rakyat akan timbulnya kembali kekejaman pemerintah Belanda seperti yang dilakukan masa pemerintahan VOC. Selain itu, Belanda menjalankan praktik-praktik monopoli perdagangan dan pelayaran Hongi, yang membabat pertanian hasil bumi yang tidak mau menjual kepada Belanda. Alasan lainnya, rakyat dibebani berbagai kewajiban berat, seperti kewajiban kerja, penyerahan ikan asin, dendeng, dan kopi.

Akibat penderitaan itu maka rakyat Maluku bangkit mengangkat senjata. Pada tahun 1817, perlawanan itu dikomandani oleh Kapitan Ahmad Lussy. Rakyat berhasil merebut Benteng Duurstede di Saparua. Bahkan residennya yang bernama Van den Bergh terbunuh. Perlawanan meluas ke Ambon, Seram, dan tempat-tempat lainnya.

Berulangkali Belanda mengerahkan pasukan untuk menumpas perlawanan rakyat Maluku, tetapi berulangkali pula Belanda mendapat pukulan berat. Karena itu Belanda meminta bantuan dari pasukan yang ada di Jakarta. Keadaan jadi berbalik, Belanda semakin kuat dan perlawanan rakyat Maluku terdesak. Akhirnya Ahmad Lussy dan kawan-kawan tertangkap Belanda. Pada tanggal 16 Desember 1817 Ahmad Lussy beserta kawan-kawannya menjalani hukuman mati di tiang gantungan.
 
Copyright © 2015. Muslim Magazine.
Design by Herdiansyah Hamzah. Published by Themes Paper. Distributed By Kaizen Template Powered by Blogger.
Creative Commons License